Madiun -- Pemerintah Kabupaten Madiun mempercepat upaya pemenuhan gizi anak dengan meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (S...
Madiun -- Pemerintah Kabupaten Madiun mempercepat upaya pemenuhan gizi anak dengan meresmikan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) ke-27 yang dikelola oleh Yayasan Srikandi Anagata. Peresmian tersebut dipimpin langsung oleh Bupati Madiun, Hari Wuryanto, di Desa Ngepeh, Kecamatan Saradan, Kabupaten Madiun, Sabtu (29/11/2025).
Acara peresmian ini dihadiri oleh sejumlah pejabat, termasuk Ketua DPRD Kabupaten Madiun, Kepala Dinas Kesehatan, perwakilan Kementerian Agama, serta jajaran Muspika Kecamatan Saradan yang terdiri dari Camat, Danramil, dan Kapolsek, Kepala Desa Se-kecmatan Saradan yang menunjukkan kolaborasi lintas sektor dalam mendukung program gizi di wilayah tersebut.
Pembukaan SPPG ini merupakan langkah strategis daerah untuk memastikan kualitas gizi generasi muda demi menyongsong Indonesia Emas 2045.
Dalam sambutannya, Bupati Hari Wuryanto mengungkapkan bahwa layanan gizi di Madiun harus diperluas secara signifikan untuk melayani seluruh penerima manfaat. Menurut data yang ada, saat ini terdapat 92.000 pengguna manfaat SPPG di Kabupaten Madiun.
“Untuk memberikan layanan terbaik, kami prediksi sekitar 45 sampai 52 SPPG harus ada di Kabupaten Madiun. Hal ini supaya layanan betul-betul bisa menjangkau dan melayani dengan baik,” ujar Bupati.
Beliau menegaskan bahwa program SPPG merupakan wujud tanggung jawab kolektif dan sejalan dengan program Asta Cita Presiden Prabowo, serta didukung penuh oleh visi Pemerintah Kabupaten Madiun, yakni Bersahaja (Bersih, Sehat, dan Sejahtera).
“Masa depan anak-anak adalah tanggung jawab kita bersama. Dengan program ini, insyaallah kita bisa membebaskan dari stunting dan menyiapkan anak-anak yang cerdas, tangguh, dan sehat,” tambah Hari Wuryanto.
Bupati turut memberikan penekanan keras kepada pengelola dan seluruh karyawan Yayasan Srikandi Anagata agar menjalankan operasional sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) Badan Gizi Nasional.
Ia mengingatkan bahwa kualitas layanan tidak boleh dikompromikan. “Kami tidak ingin ada keteledoran. Karyawan-karyawati di SPPG ini harus betul-betul komitmen, melayani dengan sepenuh hati. Kalau sakit, lebih baik izin tidak masuk, jangan sampai nanti ada masalah tetap masuk lalu melamun, anak-anak yang menjadi korban,” pungkasnya.

COMMENTS