Madiun — Yayasan Para Mitra Indonesia melalui program I-SEE (Inclusive System for Effective Eye Care) menggelar pertemuan berbag...
Madiun — Yayasan Para Mitra Indonesia melalui program I-SEE (Inclusive System for Effective Eye Care) menggelar pertemuan berbagi pengalaman antar organisasi penyandang disabilitas dari tiga kabupaten, yaitu Madiun, Magetan, dan Ngawi, Rabu (24/12/2025) di Omah Cabe, Madiun. Kegiatan ini menghadirkan tokoh berpengalaman Rizky Perdana dari Pertuni (Persatuan Tunanetra Indonesia) Kabupaten Probolinggo.
Muhammad Marsudi, Project Manager Program I-SEE, menjelaskan bahwa pertemuan ini bertujuan membuka ruang bagi organisasi disabilitas untuk saling berbagi pengalaman, baik dari sisi organisasi maupun program kerja, yang dapat memberdayakan kawan-kawan penyandang disabilitas.
“Kami berharap ada hasil nyata dari sharing pengalaman hari ini, sehingga kawan-kawan dari organisasi disabilitas kabupaten dapat meningkatkan kapasitas internal maupun eksternal organisasi. Internal meliputi pengkaderan, keaktifan anggota, hingga SOP organisasi, sedangkan eksternal berkaitan dengan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas,” ujar Marsudi.
Kegiatan ini menggunakan metode sharing dan diskusi, dengan media plano, spidol, dan metaplan. Narasumber berbagi cerita sukses dalam membangun organisasi, menghadapi tantangan, serta strategi menjalin jejaring dengan berbagai pihak, yang diharapkan menjadi inspirasi bagi peserta dari ketiga kabupaten.
Selain itu, setiap organisasi diharapkan merancang Rencana Tindak Lanjut (RTL) untuk tiga bulan ke depan. Rencana ini nantinya menjadi pedoman penguatan organisasi dan pengembangan jaringan antar organisasi, sehingga kegiatan ini memiliki dampak yang berkelanjutan.
Pernyataan peserta menyoroti manfaat kegiatan ini. Sri Gunarsih dari organisasi Wiradasa Utama Widhama, Kabupaten Magetan, menyampaikan, “Terima kasih banyak kepada para mitra untuk pelatihan hari ini. Pelatihan ini sangat luar biasa karena kita bisa saling bertukar pengalaman antar kabupaten. Dengan bertukar pengalaman, kami bisa mengetahui kekurangan masing-masing dan memperbaiki kapasitas serta kualitas organisasi kami.”
Pertemuan ini juga bertujuan membangun jejaring antara organisasi penyandang disabilitas dengan stakeholder terkait.
Harapannya, setiap peserta memiliki kawan yang bisa diajak bekerja sama dan dapat memperluas jaringan demi kepentingan penyandang disabilitas dan memberikan dampak nyata bagi pemberdayaan penyandang disabilitas di Kabupaten Madiun, Magetan, dan Ngawi. Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah bagi peserta untuk belajar langsung dari pengalaman tokoh yang telah berhasil membangun organisasi penyandang disabilitas.

COMMENTS